Semalam, dengan tiba-tiba saja saya ingin meluapkan apa yang sebenarnya telah lama menggumpal di otak saya. Gumpalan yang sebenarnya tak bertuan, tak bertujuan. Oleh karenanya, saya butuh tuan yang saya tuju untuk memecah gumpalan itu keluar dari pikiran saya.
Sebenarnya kebetulan saja, semalam ada beberapa orang yang seperti Ulo marani penthung, semacam menyediakan dirinya untuk merebah di altar, tepat di bawah pancung yang siap jatuh dan melepas kepala mereka dari badan yang selama ini memanggulnya, menggelinding jatuh diiringi muncratnya darah segar semerah saga, biji tumbuhan rambat yang biasa dipakai untuk obat sariawan.
Kata-kata yang keluar dari saya semalam memang tak beraturan, persis seperti orang yang sedang sariawan. Dan seperti halnya orang yang sedang sariawan, mengeluarkan kata-kata itupun terasa perih, pedih. Pedih, karena saya merasa terluka. Dan pedih, karena bukan mereka yang sebenarnya harus dituju untuk menjadi tuannya.
Ah, apapun itu, toh, saya sedikit menjadi lega. Gumpalan itu serta-merta pecah, remuk seperti abu batu yang kini sedang digemari oleh para pekerja proyek. Murah dan irit semen. Saya pun merasa tidak perlu meminta maaf kepada tuan-tuan yang menjadi martir atas pecahnya gumpalan itu. Karena, seperti halnya gumpalan tadi, Ulo marani penthung pun sejatinya butuh Penthungan bukan? Meski toh Penthungan itu bisa saja melenyapkan nyawanya, paling tidak, mereka tahu ada yang salah dengan sarang tempat mereka meringkuk malas di dalamnya. Semoga saja.
Selamat Datang di Taman Sunyi
“..hanya sunyi, yang sanggup mengajarkan kita, untuk tak mendua...” ― Emha Ainun Nadjib
Selasa, Februari 09, 2016
Kamis, Desember 31, 2015
The end of starting point
Sepertinya sudah cukup. Untuk menutup tahun dengan beberapa perubahan besar. Aku, yang selama ini sepenuhnya sendiri, memutuskan untuk berbagi. Aku harus merelakan sebagian dari diriku hilang, untuk kuisi dengan sebagian dari diri orang lain.
Bahwa ini adalah sepenuhnya keinginanku sendiri? Tentu saja. Untuk orang yang ingin menghidupkan hidupnya, berubah adalah sebuah keniscayaan. Dan aku memilih untuk melepas dan kemudian mengisi bagian dari diriku dengan diri yang lain sebagai perubahanku. Memang, perubahan itu menuntut banyak perubahan lain sebagai konsekwensi yang harus kutanggung. Karena itulah, banyak perubahan lain yang harus kubuat dan terima pada tahun ini, anggap saja hal itu sebuah bentuk pengorbanan.
Sampai pada hari terakhir di tahun ini, bagiku semua perubahan itu sudah cukup. Tak perlu ada lagi perubahan untuk tahun depan atau depannya lagi. Aku hanya tinggal melanjutkan dan memoles saja. Hingga separuh diriku yang kulepas, bisa benar-benar hilang dan terisi dengan yang lain.
Bahwa ini adalah sepenuhnya keinginanku sendiri? Tentu saja. Untuk orang yang ingin menghidupkan hidupnya, berubah adalah sebuah keniscayaan. Dan aku memilih untuk melepas dan kemudian mengisi bagian dari diriku dengan diri yang lain sebagai perubahanku. Memang, perubahan itu menuntut banyak perubahan lain sebagai konsekwensi yang harus kutanggung. Karena itulah, banyak perubahan lain yang harus kubuat dan terima pada tahun ini, anggap saja hal itu sebuah bentuk pengorbanan.
Sampai pada hari terakhir di tahun ini, bagiku semua perubahan itu sudah cukup. Tak perlu ada lagi perubahan untuk tahun depan atau depannya lagi. Aku hanya tinggal melanjutkan dan memoles saja. Hingga separuh diriku yang kulepas, bisa benar-benar hilang dan terisi dengan yang lain.
Dan jika itu telah terwujud, maka tak akan ada lagi istilah pengorbanan. Hanya perjalanan yang akan terus berlanjut dan berlanjut, sampai aku benar-benar lupa, ada akhir yang telah bersiap menanti di ujung jalan.
>>daN
>>Wedi, 31/12/15
Langganan:
Postingan (Atom)